Sunday, March 29, 2009

situ gintung





situ gintung yang dulu indah

Friday, March 13, 2009

Bill Gates Bilyuner Wahid


Pendiri Microsoft Corporation Bill Gates kembali menduduki peringkat pertama orang terkaya didunia dalam daftar tahunan Forbes yang dipubilkasikan Rabu kemarin.

Bill Gates yang mendirikan Microsoft Corp. pada tahun 1975, sekaligus pemimpin raksasa piranti lunak dunia kembali menempati rangking pertama pada daftar orang terkaya versi Forbes. Dengan perkiraan kekayaannya mencapai US$ 40 miliar, walaupun mengalami penurunan kekayaan sebesar US$ 18 miliar tahun ini.

Rata – rata milyuner pada tahun ini mengalami penurunan kekayaan hingga 23 persen dalam 12 bulan, menurut Forbes.

Teman Gates, pemilik Berkshire Hathaway Inc. Warren Buffet turun ke posisi kedua tahun ini setelah pada tahun lalu menduduki peringkat pertama karena kekayaannya terpangkas US$ 25 miliar menjadi US$ 37 miliar.

Penguasa telepon di Mexico City, Carlos Slim Helu menduduki peringkat ketiga dengan kekayaan US$ 35 miliar, kepala eksekutif Oracle Corp., Larry Ellison menduduki peringkat ke empat dengan kekayaan US$ 22,5 miliar.

Ikea pendiri Ingvar Kamrad dan keluarganyan menduduki peringkat ke lima dengan kekayaan sebesar US$ 22 miliar

Pendiri dan peminpin Facebook Inc. Mark Zuckerberg keluar dari daftar orang terkaya tahun ini. Padahal pemuda berusia 24 tahun yang populer dengan jejaring pertemanan didunia maya ini menduduki peringkat ke 785 dengan perkiraan kekayaan mencapai US$ 1,5 miliar.

Dow Jones Kembali Reli

New York— Harga – harga saham di bursa Wall Street terus reli dan memicu indeks Dow Jones dalam tiga hari menguat 622 poin (9,5 persen) yang merupakan penguatan tiga harian terbesar sejak November tahun lalu.

Adanya kejutan dari dari lintas sektor membuat indek Dow Jones Kamis kemarin melonjak 239,66 poin (3,46 persen) ke posisi 7.170,66, indeks Nasdaq menguat 54,46 poin (3,97 persen) menjadi 1.426,10, serta indeks S&P 500 melesat 29,38 poin (4,07) ke 750,74.

Penguatan Dow Jones kali ini dipicu oleh data penjualan ritel yang lebih baik dari perkiraan para analis. Selain itu, berita positif dari General Electric Co.(GE) yang penurunan ratingnya lebih kecil dari perkiraan, General Motors Co.(GM) menyatakan tidak memerlukan dana sebesar US$ 2 miliar dari Pemerintah, Pfizer yang melaporkan sukses dalam uji coba obat kanker, serta Bank of America Corp., yang mampu membukukan keuntungan dalam dua bulan tahun ini.

Melonjaknya Dow Jones minggu ini mengindikasikan pasar mulai bullish (menguat), atau kenaikan sesaat dikala pasar bearish (melemah), tetapi setidaknya bisa memberikan sedikit perubahan di Wall Street. “Saya tidak tahu atas apa semua yang terjadi, tetapi yang pasti merupakan prospek yang bagus untuk dua minggu mendatang,” ujar Scott Bleier dari CreatCapital Advisor.

Saham Bank of America pada penutupan kemarin melonjak 19 persen, GM melejit 17,2 persen, GE melesat 13 persen, Pfizer menguat 10 persen, serta Saham Citigroup juga naik 8,4 persen.

AP/Yahoo.com/viva

Dow Jones Kembali Reli

New York— Harga – harga saham di bursa Wall Street terus reli dan memicu indeks Dow Jones dalam tiga hari menguat 622 poin (9,5 persen) yang merupakan penguatan tiga harian terbesar sejak November tahun lalu.

Adanya kejutan dari dari lintas sektor membuat indek Dow Jones Kamis kemarin melonjak 239,66 poin (3,46 persen) ke posisi 7.170,66, indeks Nasdaq menguat 54,46 poin (3,97 persen) menjadi 1.426,10, serta indeks S&P 500 melesat 29,38 poin (4,07) ke 750,74.

Penguatan Dow Jones kali ini dipicu oleh data penjualan ritel yang lebih baik dari perkiraan para analis. Selain itu, berita positif dari General Electric Co.(GE) yang penurunan ratingnya lebih kecil dari perkiraan, General Motors Co.(GM) menyatakan tidak memerlukan dana sebesar US$ 2 miliar dari Pemerintah, Pfizer yang melaporkan sukses dalam uji coba obat kanker, serta Bank of America Corp., yang mampu membukukan keuntungan dalam dua bulan tahun ini.

Melonjaknya Dow Jones minggu ini mengindikasikan pasar mulai bullish (menguat), atau kenaikan sesaat dikala pasar bearish (melemah), tetapi setidaknya bisa memberikan sedikit perubahan di Wall Street. “Saya tidak tahu atas apa semua yang terjadi, tetapi yang pasti merupakan prospek yang bagus untuk dua minggu mendatang,” ujar Scott Bleier dari CreatCapital Advisor.

Saham Bank of America pada penutupan kemarin melonjak 19 persen, GM melejit 17,2 persen, GE melesat 13 persen, Pfizer menguat 10 persen, serta Saham Citigroup juga naik 8,4 persen.

AP/Yahoo.com/viva

Wednesday, January 14, 2009

Minyak Terus Tergelincir


Jakarta--Krisis finansial global yang menyebabkan melambatnya pertumbuhan ekonomi global membuat harga minyak terus tergelincir.

Harga minyak saat ini berada di level US$ 37,78 per barel, yang berarti sudah terjun 74 persen lebih dari posisi tertingginya Juli tahun 2008 lalu US$ 147 per barel.

Merosotnya permintaan konsumen membuat produksi barang pun juga menurun membuat permintaan akan minyak juga berkurang. Hal ini sudah diantisipasi oleh negara - negara yang tergabung dalam pengekspor minyak (OPEC) dengan menurunkan kuota produksinya. Namun harga minyak di New York Merchantile Exchage terus meluncur. Jatuhnya harga minyak di US$ 37,78 per barel ini merupakan level terendah sejak Januari 2004.


Melonjaknya pengangguran sebesar 7 persen tahun 2008 kemarin, serta meningkatnya cadangan minyak Amerika Serikat kembali memicu jatuhnya harga minyak. Karena dengan meningkatnya pengangguran daya beli masyarakat AS juga akan menurun. Sehingga pangsa ekspor negara - negara Asia ke AS juga akan merosot. Hal ini membuat prospek ekonomi 2009 masih akan suram, dan membutuhkan waktu yang lebih lama ekonomi global untuk segera recovery.

Thursday, January 8, 2009

Rupiah Masih Enggan Menjauh Dari level 11 ribu


Tidak adanya pasokan dolar kepasar membuat rupiah masih enggan menjauh dari level Rp 11 Ribu per dolar AS. Sedangkan kebutuhan dolar masih mengalir. Eksportir yang menajdi andalan pemasok dolar justru memarkirkan dananya diluar negeri. Apalagi sekarang para eksportir terkena hantman badai krisis finansial global. Dimana pesanan ekspor pasti akan merosot membuat dolar semakin langka dipasar.

Pada transaksi antar bank kemarin nilia tukar rupiah ditutup Rp 10.950 per dolar AS, yang berarti memlemah 150 poin bila dibandingkan penutupan sebelumnya Rp 10.800 per dolar AS. Untuk beberapa waktu kedepan rupiah masih akan ditransaksikan dikisaran Rp 10.700 - Rp 11.100 per dolar AS.


Diberlakukannya peraturan Bank Indonesia mengenai pembelian valuta asing harus menyertakan underlying transaksi ternyata cukup efektif untuk meredam aksi para spekulan yang mencari keuntungan sesaat membuat rupiah bergejolak.

Sampai saat ini perkembangan rupiah memang cukup baik, rupiah tidak lagi terpental - pental seperti tahun 2008 lalu.

Bank Indonesia (BI) juga sudah mengerti bahwa suku bunga tinggi tidak menguntungkan buat rupiah. Dalam Rapat Dewan Gubernur BI kembali memangkas suku bunganny sebesar 50 basis point menjadi 8,75 persen. Namun, ini juga tidak langsung otomatis langsung menguat. Karena memang supply dolar dipasar yang memang kering.


Investor asing masih belum berani menaruh dananya di emerging market yang beresiko tinggi. Mereka cenderung menanamkan dananya di obligasi negara AS yang diyakini lebih aman, walaupun imbal hasilnya sangat kecil. Karena di Amerika sendiri saat ini ada slogan "cash is king" (uang tunai adalah segalanya).


Krisis finansial global yang masih bergulir masih menjadi batu ganjalan bagi penguatan rupiah kedepan. Dimana data masih menunjukkan bahwa perekonomian AS masih terpuruk.

Monday, December 29, 2008

Economic Bubble


Akhirnya gelembung ekonomi AS meledak

Pesatnya pertumbuhan finansial Amerika Serikat (AS) akhirnya limbung di tahun 2008. Diawali dari krisis hipotek perumahan AS (subprime mortgage)kemudian menjalar ke Wall Street dan sektor lainnya. Para pengelola dana dan investment banking kelas wahidpun bertumbangan. Harga saham sektor finansial pun berguguran. Saham Citigroup Inc. pada akhir 2007 lalu masih di US$ 29,44 sekarang hanya tinggal US$ 6,73, yang berarti merosot US$ 22,71 (77,14 persen), bahkan pernah mencapai level terendahnya US$ 3,77 pada tanggal 21 November lalu.

Lebih tragis lagi Lehman Brothers holding bahkan harus melempar handuk karena tidak kuat menahan pukulan krisis subprime mortgage. Pada 31 Des. 2007 harganya masih berada di US$ 65,24 sekarang tinggal US$ 0,0265, terjun US$ 65,21 (99,96 persen).

Apa yang membuat krisis finansial AS ini terjadi:
1. Pengawasan dari otoritas bursa AS (SEC) yang lemah
2. Gaji dan bonus yang sangat tinggi membuat para CEO berlomba mencapai target
dengan cara apapun.
3. Banyaknya aturan (batasan) yang dilanggar dalam pencapaian target serta kurangnya diversifikasi resiko investasi.
4. Lemahnya para lembaga pemeringkat internasional memberi warning kepada para investor akan utang - utang dan investasi yang akan bermasalah.
5. Harga minyak mentah yang terus melambung hingga US$ 147 per barel.
6. Nilai tukar dolar yang terus melemah terhadap mata uang utama dunia.
7. Suku bunga The Fed yang bertahan cukup lama di level 5,25 persen.

Pemerintah AS pun harus menggelontorkan sekitar US$ 1.000 triliun untuk meredam dampak dari krisis finansial global saat ini.